Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2015


Perbatasan RIPNG


Hello Pembaca setia, kali ini saya mengajak kalian reader ke perbatasan RI-PNG yang sering disebut dengan Batas atau Wutung. Perjalanan kamu akan sangat menyenangkan bila melakukan border tour sepanjang 75 KM dari Abepura city square.”Lingkarang Setan atau Education Monument” Fresh air itulah yang akan menemani kamu sepanjang perjanan menuju Wutung. Jalan kesana memang begitu mulus berkat rencana presiden RI meresmiskan pasar bebas RI-PNG 2 tahun lalu, namun rencana itu tidak kunjung terlaksana dengan berbagai alasan.  Be careful jika menggunakan kendaraan roda 2 atau 4, agar menghindari terpelosok ke Tami Wara (sungai Tami) disarankan tidak menggunakan High Speed dan berkendaraan disaat lagi on air(sedang mengkonsumsi alcoholic beverage) Suguhan musik alam selalu mengiringi pengunjung ke perbatasan dalam situasi apa saja.

Bila melakukan perjalanan balik, kamu bisa beristirahat di Tami bridge atau Skouw Mabo Beach sambil menikmati lunch box dan keindah Pacific Ocean.

Jika ingin melakukan perjalanan ke perbatasan RI–PNG, kamu dapat menggunakan dua access, yaitu Sea transportation & Land transportation. Untuk darat start dari terminal Pasar Youtefa pillh jurusan Skouw-Wutung/Batas dengan starwagon, menghabiskan Rp. 15.000 untuk kamu sekali jalan. Kalau mau lanjutin perjalanan lagi ke Luar Negeri cukup berjalan kaki sekitar 500 meter dari kantor Imigrasi RI di Wutung, disana kami akan melihat bendera Negara Papua New Guinea yang merdeka tahun 1975 dan pemancar Mercusuar yang menandakan berbatasan kedua negara, selanjutnya jika ingin shopping cukup di sekitar kantor perwakilan Imigrasi PNG di Wutung.

Sebelum melakukan shopping, disarankan menukarkan mata uang kita dengan Kina disekitar pasar Wutungnya orang Indonesia, agar memudahkan kamu belanja dalam hal komunikasi. Dimana 1 kina = Rp. 3.200. Bahasa orang seberang adalah Inggris-Fiji, kamu yang bisa ngerti bahasa Inggris adalah nilai plus, Kalau tidak lancar belajarlah sama mereka disana, dalam 1 tahun kamu bisa kuasai jika sering melakukan traveling kesana.

Disitu kamu akan mendapatkan pemandangan indah ke perkampungan Wutung, Lautan Pasifik, melihat jualan kerajinan tangan, minuman kaleng, Kornet Beef, kain bermotif pasifik, bendera 15 provinsi di PNG dan bahkan kamu dapat mencicipi masakan khas     seperti domba panggang, papeda bungkus campur rice and others.

Jika ingin meneruskan traveling abroad, keluarkan lagi 10 Kina, sekitar RP. 30,000 sudah sampai di Sandaun-Vanimo, the last province of PNG, dengan menghabiskan waktu satu setengah jam, maximum speed 70 KM.

Kamu yang kuat dengan gelombang laut, melalui Argapura pantai menghubungi motorist disekitar pantai dengan membawa surat keterangan dari Imigrasi Jayapura atau memiliki Red Card dapat akses melalui sea transport. Apabilia ingin memperoleh Red Card, cukup menyertakan salinan kartu keluarga dan KTP ditambah pas photo berwarna 3x4 sebanyak 2 lembar, selanjutnya antar ke Bram Taime di Hamadi atau kantor Imigrasi di perbatasan RI-PNG, Wutung. Dalam melakukan traveling ini, minuman dan makanan ringin diikutsertakan agar tetap tegar menempuh sekian miles.  

Sabtu, 02 Mei 2015

Pack your travel bag, check your cash and come with me!

Kali ini saya akan mengajak kamu jalan-jalan ke Tabla Nusu, salah satu Kampung di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Nggak terlalu jauh, kamu hanya butuh waktu 45 menit menggunakan angkutan umum dari Kota Sentani sampai ke Depapre, dengan ongkos hanya Rp. 5000,- kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Tabla Nusu dengan menggunakan Ojek, biayanya Rp. 7000,- Nah!, cukup murah kan?

Jumlan penduduk di Kampung Tabla Nusu sekitar 89 kepala keluarga, dengan sepuluh marga besar didalamnya, yaitu, SOUMILENA, DANNYA, SUWAE, SORONTOUW, YAKARMILENA, WAMBENA, SOUMISU, APASERAY, IFUWAY dan SELI.

Seluruh penduduknya beragama Nasrani, dengan mata pencaharian sebagai nelayan dan berladang.

Belum ada pembaruan antara masyarakat setempat dengan pendatang, kecuali dengan Marga Seli, yang adalah orang Ternate dan telah diangkat menjadi bagian Masyarakat Tabla Nusu, karena pada jaman dulu mereka adalah orang-orang pertama yang datang ke daerah itu untuk berdagang.

Distrik Depapre dibagi dalam tiga Suku besar, yaitu, YUWENA, yang meliputi DORMENA, YONGSU, YEPASE dan WAMBENA.

Yuwena dalam bahasa setempat disebut sebagai, "Sebelah Matahari Naik". Kemudian YOKARI adalah, "Sebelah Matahari Turun", sedangkan NUSU adalah, "Sebelah Matahari Condong".

Nama Tabla Nusu sebenarnya sudah di Indonesiakan, nama asli kampung ini dalam bahasa setempat disebut TEPRA yang berarti 'Suku' dan ONUSU yang berarti 'Matahari Condong'. Jadi TEPRA ONUSU adalah, "Suku dimana Matahari telah condong ke Barat".

Suku Tabla Nusu sendiri telah tiga kali berpindah kampung. Kampung pertama adalah KWAYO, yang telah dimusnahkan oleh Tsunami, kemudian pindah lagi ke Kampung BETIAYO, namun karena perjalanan pulang pergi ke ladang memerlukan waktu cukup lama, maka Mama-mama (pada waktu itu), memutuskan untuk menetap di ladang yang disebut SPARI BORU, artinya "Pantai Berbatu-batu", yang hingga kini menjadi Kampung Tabla Nusu.

Orang Tabla Nusu pindah ke Kampung yang punya ciri khas berbatu ini, sekitar usainya Perang Dunia ke II. Masyarakat Tabla Nusu dipimpin oleh seprang Ondoafi, seperti orang Jayapura pada umumnya, dan mereka mempunyai empat orang Ondoafi.

SOUMILENA adalah pemimpin tertua diantara Ondoafi. APASERAY adalah Ondoafi yang diberi hak untuk melaksanakan pesta adat, kemudian SORONTOUW dan WAMBENA.

Tabla Nusu adalah kampung wisata yang unik, dimana dilatarbelakangi oleh telaga dan pantai yang seluruhnya terdiri dari batuan kerikil halus, seperti buatan tangan/pabrik, tetapi sesungguhnya batuan kerikil ini terjadi karena proses alami.

Memasuki Kampung ini, kita akan melewati turunan yang cukup terjal, memacu adrenalin kita, sangat menguji nyali bagi para pengendara motor. Anda juga wajib membayar retribusi Rp. 10.000,- untuk roda empat dan Rp. 5.000,- untuk roda dua.

Kampung Wisata ini mempunyai fasilitas yang cukup memadai. Ada pondok-pondok atau saung, tenda, kamar ganti, toilet dan juga restoran yang menyediakan menu tradisional maupun nasional. Ada juga resort dan peralatan mancing bagi yang hobby mancing, speedboad dan perahu-perahu.

Dengan bantuan Pemerintah, masyarakat mulai aktif menjual wisata Kampung Tabla Nusu ini sejak tahun 2008. Walaupun jauh sebelumnya Kampung ini sering dikunjungi oleh berbagai kalangan untuk berlibur, namun setelah dijadikan Kampung Wisata, Kampung ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan semakin ramai dikunjungi.

Perhatian Dinas Pariwisata dalam mengembangan Pariwisata dan pembangunan ekonomi masyarakat sangat dirasakan. Ini bisa dilihat dari bantuan Dinas Pariwisata seperti bangunan Honai-honai/saung dan penginapan-penginapan yang dikelola penduduk. Pembagian hasil disepakati bersama, antara penduduk pemilik tempat dan pemerintah yang membangun dan menyiapkan segala fasilitasnya.

Satu Honai atau Saung dibandrol dengan harga Rp. 25.000,- sedang tenda ukuran besar dibandrol Rp. 50.000,- berikut kursi dan tikar.

Hasil yang diperoleh akan dibagi kepada PEMDA Kabupaten sebesar 40%, Adat (pemilik tempat) 40% dan 20% untuk Pemerintah Kampung.

Selain penginapan yang disiapkan penduduk dengan Pemda, ada juga Resort dengan standar Hotel, milik mantan Bupati Jayapura, Habel Suwae. Resort ini dikelola oleh Ibu Tina Bonay Suwae, bekerjasama dengan ibu-ibu dan pemuda kampung setempat. Resort ini juga menyediakan berbagai menu tradisional maupun nasional. Salah satu menu favorit wisatawan adalah ikan bakar, dengan harga terjangkau dan tentu saja 'yummy'.

Habel Suwae Resort memasang tarif Rp. 300.000,-/malam. Resort ini juga menyediakan speedboad untuk 'mancing mania' dan tempat barbeque. So, kamu ga perlu bawa banyak barang kalo ingin bermalam.

Jika malam tiba, lampu-lampu di sepanjang pantai yang dililit pada batang pohon kelapa, membuat tempat ini begitu romantis dan eksotik. Banyak juga yang menggunakan tempat ini untuk pesta pernikahan, bulan madu, ulang tahun, ibadah dan lain sebagainya.

Nah, buat kamu yang ingin berkunjung ketempat ini, nikmatilah keindahan Kampung Tabla Nusu, tapi jangan lupa untuk tetap menghargai adat istiadat yang berlaku di Kampung Tabla Nusu. Tidak ada larangan tertulis, atau rambu-rambu yang dipasang untuk para wisatawan, ini karena "Setiap manusia diberikan akal oleh Penciptanya".

Seperti, larangan untuk memasuki Pulau di depan Kampung, melepas alas kaki saat meninjak batu-batu kerikil (terapi alami) dan larangan membawa pulang batu-batu kerikil. Kepercayaan di kampung ini, bahwa, batu-batu tersebut akan kembali kepada keluarganya.

Masyarakat Kampung Tabla Nusu juga diharapkan tidak melupakan adat istiadat, tetapi terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya, sehingga tidak mudah terkikis dengan budaya baru yang masuk. (BK)

Hmm... Bawa pulang batu ga ya?

Sabtu, 04 April 2015

Hreng Hre Mntugu - Nungu Mntugu
Aifane Nafane
Kampung Tahima Soroma – Kayu Pulau


Kayu Pulau adalah salah satu pulau yang menghiasi teluk Humboltd Bay. Buat kamu yang sering melewati sepanjang pantai Dok II, atau hang out di kupang (kursi panjang), Kayu Pulau selalu mengundang banyak mata untuk meliriknya, terutama di malam hari, saat Salib yang berada di atas pulau tersebut dinyalakan.

Pulau ini sangat mudah dijangkau. Dengan menumpang motor ojek (perahu motor) dari dermaga Weref kamu bisa sampai di Kayu Pulau dalam waktu 5 menit, cukup dengan membayar Rp 3.000 sekali jalan atau kamu dapat mencarter motor ojek Rp. 50.000/pp yang siap mengantar kamu ke semua tujuan (Doksem, Doklim, Dokdu, Dokem, Argapura, Hamadi dll). Dulunya ada jembatan yang mempermudah jarak tempuh, namun jembatan tersebut telah rusak akibat terjangan air laut.

Walaupun Kayu Pulau sangat mudah dijangkau, namun jarang sekali orang mau berwisata kesana. Ini dikarenakan para tetua adat sejak dulu melarang orang luar masuk ke pulau mereka termasuk pemerintahan. Tetapi aturan tersebut tidak berlaku lagi, saat ini pemerintah telah masuk dengan adanya KPK (Kepala Pemerintahan Kampung), dan ada juga masyarakat luar yang mengadakan wisata rohani seperti rit-rit, menyelam, mancing dsb. Pulau ini hanya dihuni oleh 117 jiwa, sebagian besar masyarakat kampung Kayu Pulau lebih memilih mendiami daerah di luar pulau.

Orang Kayu Pulau telah berada ratusan tahun yang lalu di pulau ini. Mereka adalah suku Sibi Rumah Cone, yang pertama-tama mendiami pulau ini, ada juga Suku Sibi Rahabeam, Suku Hai dan Suku Soro. Sedangkan Suku Jouwe yang berasal dari daerah Cycloop, datang dan mendiami Pulau Kosong, atau pulau yang saat ini mayoritas penduduknya berasal dari Pulau Buton. Keberadaan Suku Jouwe di Kayu Pulau dikarenakan rumah (Karware) mereka dibakar oleh suku lain. Kehancuran yang diakibatkan oleh kebakaran mengakibatkan kepedihan di hati Suku Jouwe. Mereka duduk meratapi nasib mereka dipinggir pantai, hingga terdengar oleh warga di Kayu Pulau. Para tetua adat di Kayu Pulau merasa iba sehingga memanggil mereka untuk tinggal di Kayu Pulau.

Di para-para adat, orang Kayu Pulau mengangkat Suku Jouwe menjadi bagian dari keluarga besar mereka dengan cara tinggal sekampung dan diberikan batas-batas wilayah yang dibagikan oleh orang Kayu Pulau. Sibi diujung Barat, Sedangkan Suku Hai di ujung Timur, Suku Jouwe yang terdiri dari dua bersaudara mendapat bagian wilayah di tengah-tengah dan bertugas mengatur kampung serta menjadi penguasa laut dan Suku Soro yang bertugas sebagai pesuruh. Mereka hidup berdampingan dibawah Satu Tifa dan Satu Para-para Adat. Sebagai contoh, saat Sibi mengadakan acara adat, Jouwe akan berdansa dan Sibi memberikan makan, begitupun sebaliknya. Ketentraman masyarakat Kayu Pulau sempat terusik pada saat pecah perang dunia kedua, Seluruh penghuni kampung mengungsi ke Kampung Ormu. Hingga tahun 1946, saat perang mulai mereda, warga kembali pulang ke Kayu Pulau dan mendiami kembali pulau itu hingga saat ini.

Dulunya mata pencahariaan orang Kayu Pulau adalah nelayan tradisional. Cukup dengan mata kail, nyimu (nilon), kalawai dan lobe atau pelepah kelapa kering yang digunakan sebagai penerang dimalam hari, dalam mencari makan. Namun seiring kemajuan jaman, masyarakat lebih memilih untuk bekerja pada sektor-sektor lain, daripada menjadi nelayan.

Pemimpin tertinggi dalam masyarakat adat Kayu Pulau dipeggang oleh Suku Sibi sebagai Ondoafi Umum, yang saat ini dijabat oleh……, dan Ondoafi Jouwe untuk Suku Jouwe dijabat oleh……

Dalam tatanan hukum adat di Kayu Pulau, perempuan mendapat tempat yang sangat dihormati. Perempuan dilarang untuk mencari nafkah. Apabila laki-laki tidak dapat memenuhi kebutuhan rumah tangganya, perempuan dapat meminta tolong kepada keluarganya yang lain. Apabila perempuan menafkahi laki-laki, hal ini dianggap tabu, karena menjatuhkan harga diri kaum pria. Tetapi banyak aturan-aturan adat yang saat ini tidak lagi dipatuhi, seperti pelanggaran yang dilakukan kaum wanita dimana mereka dapat duduk-duduk atau bersantai dan memancing di jembatan utama, yang sebenarnya hal ini dianggap tabu.

Tatacara pembayaran mas kawin di Kayu Pulau tidak berbeda dengan daerah lainnya di Papua. Mas kawin berupa manik-manik, gelang atau berupa uang yang besarnya disesuaikan dari mata rumah ke mata rumah atau suku ke suku. Seperti anak-anak bangsawan/Ondoafi berbeda dengan anak-anak dari golongan masyarakat umumnya.

Bahasa yang digunakan saat ini oleh masyarakat Kayu Pulau kebanyakan adalah bahasa Indonesia. Generasi sekarang tidak lagi menguasai bahasa Kayu Pulau, kalaupun ada yang menggunakan bahasa, tidak lagi seperti tuturan aslinya atau bahasa dalamnya. Banyak orang tua yang was-was, akan kehilangan akar budaya akibat peradaban modern sehingga generasi sekarang dan akan datang tidak lagi mengenal dari mana mereka berasal. Untuk itu diharapkan orang-orang tua dapat menuturkan bahasa daerah dan hukum adat kepada anak-anak mereka sehingga adat istiadat sebagai identitas masyarakat Kayu Pulau tidak punah.

Fasilitas umum yang ada di Kayu Pulau adalah Gereja, Air bersih dan Listrik. Sekitar tahun 1955-1958 sempat berdiri sekolah kampung atau setingkat SD yang disebut Dorp School.

Walaupun kayu pulau terlihat kecil, tetapi hak ulayat tanah adat mereka sangat besar. Batas wilayah mereka dimulai dari pesisir pantai Berg En Dal (Resimen), Caro Moho (gunung dimana saat ini berdiri Gereja Katedral di Argapura), Fanggasgu Moho (gunung depan pelabuhan Jayapura hingga Pemancar Polimak), Syosyo Nyarei (Kodam), Foti Na (Ajen), Fate (Kali biru APO), Meraribo, Himill Port’s atau Pintu Surga (BMG-Angkasa) dan berakhir di Milo School (SMA Gabungan Dok V).

Kampung yang wilayahnya meliputi Tahima Soroma (Laut – Darat), kini mengalami banyak kerusakan. Jembatan-jembatan yang menghubungkan rumah ke rumah hampir seluruhnya hancur, rumah-ruhah yang nyaris roboh akibat terjangan angin dan ombak, belum lagi abrasi yang merusak pantai mereka dan sampah-sampah dari darat yang mengotori kampung. Warga kampung berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki kampung mereka.

Mereka juga meminta kepada walikota, untuk segera merelokasi masyarakat di Pulau Kosong, agar pulau tersebut dapat dijadikan obyek wisata yang dapat mendatangkan income bagi masyarakat kampung.

Nah, kamu bisa traveling ke pulau ini tanpa biaya besar, tetapi mendapatkan panorama yang luar biasa. (BK)

Sumber cerita: Ibu Alwina Sibi (Tokoh Perempuan dan Tokoh Adat)
Selamat datang di kota paling Timur Indonesia, Maroka Ehe (Kali Maro), Merauke. Kali ini saya mengajak kalian untuk menikmati kota dan alam Merauke yang bermotto Izakod Bekai Izakod Kai (Satu Hati Satu Tujuan). Kota yang telah berumur lebih dari 100 tahun ini, Mayoritas penduduknya beragama Katolik dan Protestan. Ini terlihat dengan banyaknya gedung gereja Katolik maupun Protestan, hampir disetiap jalan terdapat gereja dan ornament atau Patung Kristus dan Bunda Maria.

Ada juga lukisan dinding (relief) yang dibangun untuk mengenang perjalanan masuknya injil di Merauke. Pada dinding tersebut di gambarkan tentang kedatangan Misionaris pertama pada 14 Agustus 1905, Pembaptisan pertama orang Marind oleh Pr. Henri Nollen MSC, pada 25 Desember 1905, perawatan korban wabah penyakit oleh misionaris, pesta tifa, gambar guru pertama Casianus Maturbongs tahun 1920 dan Pembaptisan Pastor Marind pertama, Pius Cornelis Manu Pr, pada 24 Oktober 2004. Diarea ini juga terdapat kuburan para Misionaris dan kotak-kotak di dinding yang didalamnya terdapat kerangka/abu para Misionaris.

Disini juga terdapat Tugu peringatan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) dimana pada PEPERA tersebut, 175 anggota Dewan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat, menyatakan dengan suara bulat dan semangat persatuan bahwa Irian Barat merupakan bagian mutlak wilayah RI dan tidak mau dipisahkan dari NKRI. Ini terjadi pada 14 Juli 1969. yang sebelumnya telah diterjunkan tentara Indonesia dibawah komando, Mayor LB. Moerdani, dalam rangka pembebasan Irian Barat pada 4 Juni 1962.

Nah, buat kamu yang suka dengan kesenian daerah, ada panggung kayu yang sangat luas, diatas panggung hiburan rakyat ini, kamu bisa menyaksikan semua atraksi kesenian dari suku-suku yang ada di Merauke. Dan bagi kamu yang ingin menikmati senja di kota Merauke, jembatan Sungai Maro adalah pilihan yang tepat. Cahaya keemasan sang mentari diatas Sungai Maro merupakan pemandangan yang sangat menajubkan.

Merauke merupakan dataran yang sangat luas, tidak terlihat gunung-gunung seperti pada kota-kota lain di Papua. Konon katanya, Merauke pada awalnya merupakan sebuah gunung berapi yang kemudian meletus dan meratakan seluruh permukaan tanah ini, pada ribuan tahun yang lalu. Hal ini dikaitkan dengan adanya sumur air panas atau air belerang yang berasal dari gunung berapi. Sumber air panas ini merupakan salah satu objek wisata didalam kota yang dapat kamu kunjungi, namun sayang, sumur air panas tersebut tidak terawat dengan baik. Warga setempat menggunakan objek wisata sumur air panas ini untuk MCK.

Mayoritas masyarakat di Merauke bekerja sebagai petani ladang. Postur tubuh mereka yang tinggi besar dan kekar menggambarkan bahwa mereka adalah ANIM HA atau Manusia Sejati. Mereka masih berburu binatang liar, seperti rusa, kangguru atau segala binatang lainnya yang dapat dimakan, dengan cara berburu tradisional, yaitu menggunakan panah atau jerat.

Banyak bangunan peninggalan Belanda di kota ini, salah satunya adalah Post Kantor (kantor pos). Gedung ini berdiri sejak tahun 1920, dan masih tetap berdiri hingga kini. Sayangnya pemerintah kurang memperhatikan aset-aset sejarah seperti ini. Gedung dibiarkan kosong dan tidak terurus. Ada baiknya pemerintah menjadikan kantor ini sebagai museum benda-benda filateli.

TAMAN NASIONAL WASUR (TNW)


Taman Nasional Wasur (TNW) merupakan salah satu dari 50 Taman Nasional yang ada di Indonesia, yang baru dikelola dalam bentuk UPT (Unit Pelaksana Teknis) sejak tahun 1997. sebelumnya pengelolaan TNW dilaksanakan oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Irian Jaya II c.q. Sub Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Merauke bersama-sama WWF ID.0105 Merauke. Luas kawasan TNW sebesar 413.810 ha, yang secara administrative pemerintah terletak di kecamatan Merauke di wilayah Kab. Tingkat II Merauke, Prov. Papua. TNW wajib kamu kunjungi.

Salah satu objek wisata yang ada di TNW yaitu Savana. Beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi antara lain, Kankania, Ukra, Mblatar, Prem, Maar dan Savana Rawa Biru. Yang bisa kalian lakukan disini adalah, mengamati satwa liar seperti Kangguru, burung dan binatang lainnya, kamu juga bisa berkemah (camping ground), Tracking, dll. Objek wisata ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda 2 dan roda 4. Petualangan ini sebaiknya dilakukan pada musim kering yaitu bulan September sampai awal Desember.

Taman Nasional Wasur, merupakan satu dari ekosistem lahan basah yang terluas di Indonesia dan no 2 terluas di dunia. TNW, memiliki kekayaan flora dan fauna yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, inilah yang membedakan TNW dengan daerah-daerah lain. TNW di pengaruhi oleh 2 musim yaitu musim panas dan musim hujan, uniknya tanaman disini bisa beradaptasi dengan kedua musim. Artinya flora dan fauna disini tetap hidup baik, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.

Tanaman obat seperti, temulawak, sambiloto, jarak pagar, bunga tahi ayam/tembelekan, pare, sagu daun panjang, kayu missal, anggrek dan sebagainya banyak terdapat di TNW. Ada juga jenis-jenis tanaman eksotik seperti, rumput ekor tikus, tebu rawa, rumput siam, putri malu raksasa, eceng gondok, teratai, bunga bangkai, sarang semut, pinang hutan yang besar dll.

Sedangkan jenis-jenis fauna yang terdapat di TNW adalah, kangguru lapang, anjing, buaya, burung kasuari, elang dada putih, cenderawasih merah muda, mambruk, ikan kakap, udang, ular patola, jenis-jenis kadal, kupu-kupu, rusa dan masih banyak lagi.

Masyarakat memanfaatkan satwa secara adat atau menurut aturan adat. Ini dikarenakan sebagian dari mereka menggunakan satwa sebagai totem atau lambang suku mereka. Contohnya Suku Malind Anim, mereka menggunakan kangguru atau dalam bahasa mereka disebut Saham sebagai totem dari marga mereka. Marga yang menggunakan totem kangguru yaitu marga Samkakai. Karena itulah pemanfaatan satwa kangguru (saham) di alam harus berpegang pada aturan adat yang dibuat oleh marga Samkakai sendiri. Di Mereuke ada empat suku besar yaitu, Malind Anim, Malind Muli Anim, Malind Kolepom Banim dan Malind Sendawi. Sedangkan totem 7 marga di TNW adalah Marind, Kanume, Yeinan, Marori dan Meng-Gey.

Marga lain yang menggunakan satwa sebagai totem adalah marga Mbanggu dari suku Kanume. Mbanggu menggunakan kangguru lapang atau dalam bahasa mereka disebut Maam. Mereka telah menggunakan totem ini secara turun-temurun. Sebagai sebuah totem dari suatu marga, dalam pemanfaatan kangguru lapang di alam telah diatur dan dituangkan dalam aturan adat yang sangat dipegang teguh oleh marga tersebut.

Pemanfaatan satwa dalam aturan adat antara lain: satwa tidak boleh diburu secara umum tetapi secara tradisional yaitu dengan menggunakan panah atau anjing berburu. Dilarang keras membacok atau menggunakan senapan. Dan jumlah hewan buruan dalam sekali berburu cukup 1-2 ekor. Setiap orang yang ingin berburu harus menghubungi atau mohon ijin kepada tuan dusun. Ada juga aturan adat, bagaimana cara mengolah hewan buruan, hewan-hewan yang tidak boleh dimakan dll. Sangsi dari aturan adat ini apabila dilanggar sangat keras. Tahapan sangsi dimulai dari teguran secara halus, membayar denda, ditegur dengan memasang tanda nyawa berupa tali ditangan. Hal ini menandakan bahwa orang tersebut merupakan orang yang sedang menerima hukuman dan bersiap untuk mati jika melakukan kesalahan yang sama lagi. Jika ia melakukan dan melanggar lagi, maka akan langsung dilakukan eksekusi mati.

Di TNW ada tempat-tempat sakral yang tidak boleh dimasuki oleh umum, seperti, Tomer: Aukambo (sumur Alam), Sota: Samleber (Persinggahan leluhur), Kaulei, Ngawah, Waru dan Cumanetek (Dusun sagu), Nsat, Sainz, Onggaya: Yawer, Ncuar, Baram dan Tarkiter (tempat sakral).

Di TNW juga terdapat tempat permandian, walupun airnya berwarna coklat susu, masyarakat dari luar TNW menjadikan tempat ini sebagai tujuan wisata. Ada pondok-pondok yang bisa digunakan untuk bersantai menikati suasana alam Wasur dan berenang. Bagi kamu yang suka tanaman anggrek, disini banyak terdapat tempat budidaya anggrek. Kamu juga dapat berkunjung ke tempat penangkaran kangguru. Disini ditampung kangguru-kangguru sitaan pemerintah yang akan diselundupkan ke luar Papua. Di tempat penangkaran ini juga terdapat banyak tanaman Bunga Bangkai.

Menurut Ketua Lembaga Masyarakat Adat Wasur (LMA), Bpk. Wihelmus Gebze, “Di TNW hanya terdapat sekitar 200 KK, mata pencaharian kami yaitu tokok sagu, bertani, berburu secara tradisional dan menangkap ikan secara tradisional. Hal ini kami lakukan untuk mempertahankan potensi atau sumberdaya alam yang ada disekitar kampung. Di penangkaran kangguru kami, terdapat 10 kangguru sitaan. Dari 10 kangguru ini telah berkembang menjadi 32 ekor kangguru. Kami belum bisa melepas kangguru ini ke alam bebas, karena kangguru ini terlalu lama dikandangkan, sehingga mereka menjadi sangat jinak, dikhawatirkan apabila dilepas mereka akan tetap berada di sekitar perkampungan masyarakat, sehingga gampang dibunuh atau ditangkap lagi. Kami harus menunggu beberapa tahun sampai sifat satwa ini menjadi liar kembali baru kemudian dilepas ke alam bebas. Kami berharap peran semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat yang hidup dari alam, untuk bisa melihat lingkungan dan menjaga alam bersama-sama, sehingga tetap terjaga keseimbangan pada kehidupan di bumi ini ”.

Satu lagi yang memukau dari TNW yaitu, Rumah Semut atau Musamus. Rumah semut ini dibangun dengan bahan-bahan di sekitar lokasi bangunan. Semut ini menggunakan rumput dan tanah sebagai material untuk membangun rumah mereka yang sangat kokoh. Serangga kecil ini dapat membangun rumah mereka setinggi lebih dari 2 meter dan akan bertahan dari hujan dan panas selama bertahun-tahun. Masyarakat Wasur mendapatkan pelajaran dari semut ini, yaitu untuk menghasilkan sebuah keberhasilan dibutuhkan kerjasama. Filosofi yang didapat dari Musamus adalah, jangan tanya kerjaku, tapi lihat karyaku, membangun tanpa merusak dan dengan kekompakan dari dalam menghasilkan karya yang besar.

Nah, buat kamu yang hobi berpetualang, kamu bisa datang ke Pusat Informasi dan Wisma Cinta Alam “Bumi Sai” Taman Nasional Wasur, yang diresmikan oleh Direktur Konservasi Kawasan Ditjen PHKA pada 28 Juli 2008 lalu. Disini kamu bisa dapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang TNW.

So, Welcome To Maroka Ehe! (BK)